Ini Tips Mudah Saya Mengajarkan Anak Berhijab

hijab-anak-lucu-cantikKenapa sih harus mengajari anak berhijab sejak dini? Ayah, Bunda ternyata usia 0-5 tahun adalah usia Emas anak. Dimana fisik dan otak anak sedang berada di masa pertumbuhan baiknya. Apa yang ia tangkap akan segera dicermati untuk jadi bahan tiru yang bakal membentuk perilakunya. Kesadaran mengajarkan anak harus bermula dari Ayah dan Bunda, lalu coba tanamkan kepada sang buah hati bahwa berhijab adalah penting. Berikan pengertian sederhana “Ini ciri keluarga kita nak…”, atau “inilah kita, nak sebagai muslim/muslimah yang selalu menjaga cara berpakaian yang sopan”.

Anak awalnya mungkin akan sering kali menolak. Alasan paling sering yang bakal dikeluhkan anak biasanya gerah, repot, ngeganggu/ga nyaman, bahkan anak mungkin menangis jika digunakan dikepalanya. Seperti pengalaman anak kami yang sedang berlatih berhijab. Anak perempuan kami berusia 4 tahun. Tahun ini kami sedang giat-giatnya mengajarinya berbusana Islami. Sebagai orang tua kita tidak boleh bosan atau letih mengajarinya.

Inilah tips kami melatih anak berhijab sejak dini:

  1. Memberikan contoh berhijab tidak hanya menyuruh

Setiap adzan berkumandang kami selalu mengajaknya pergi ke masjid. Alhamdulillah lokasi rumah-masjid kami dekat. Memang sih, perempuan lebih Utama sholat di masjid, tapi demi melatih anak biasa menutup aurat kami ajak anak kami memakai hijab semenjak dari rumah.

  1. Mengajaknya memilih hijab (jilbab) dengan warna yang paling digemarinya

jilbab-anak-lucu-cantik-nyamanTips ini sengaja kami lalukan untuk membuatnya tertarik dulu dengan pakaian yang namanya hijab. Dan memang anak kami terlihat begitu gembira ketika diajak langgsung memilih hijab baru dari afrakids. Anak kami menyukai warna pink. Alhamdulillah-nya juga kami sebagai agen produk afrakids punya banyak pilihan warna hijab untuk anak. Hijab berbahan yang cotton spandex single knitting (gramasi 170-190 gr/m2) ini menyerap keringat dan terasa nyaman dipakai.

  1. Meningkatkan keseringan memakai hijab setiap kali main keluar rumah

Bermain di luar rumah membuat anak berlatih bersosialisasi dan tidak jenuh. Waktu sore hari (ba’da ashar) adalah waktu yang paling sering dimanfaatkan anak bermain diluar rumah. Pada waktu bermain ini kami biasakan anak memakai hijab dengan warna kesukaannya. Meskipun sebentar kemudian dilepas, hal ini jangan membuat orang tua patah semangat. Memang demikianlah awalnya, karena nyaman atau tidak itu hanya ada di awalnya saja, seiring dengan seringnya anak berhijab tiap kali keluar rumah, kenyamanan itu akan dating dan semakin dirasakan oleh si anak, sehingga satu hari nanti ketika anak akan main keluar rumah dia akan merasa ada yang kurang dan malah meminta sendiri untuk memaki hijab.

Advertisements

6 Karakter Anak yang Perlu Bunda Tahu

6-karakter-anak-paling-pentingKarakter anak biasanya diturunkan dari sifat bawaan orang tuanya. Enam karakter di bawah ini sering membuat orang tua kesulitan dalam memahami dan mengarahkan anak. Negatifnya, karena merasa arahannya tidak dipedulikan oleh anak orang tua malah cenderung membiarkan atau melakukan tindakan represif pada anak, baik dengan membentak, berteriak atau marah-marah yang ga jelas.

  1. Unik

Setiap anak yang terlahir sudah memiliki keunikan. Inilah yang menjadikan manusia memiliki perbedaan antara satu dengan lainnya.Karakter ini meliputi sifat bawaan, kapabilitas, minat, dan latar belakang.

  1. Egosentris

Egosentris dimiliki oleh setiap anak. Sikap ini ditandai dengan sikap anak yang cenderung memahami dan memperhatikan suatu hal hanya dari sudut pandang kepentingan sendiri saja.

  1. Aktif dan Energik

Setiap hari mungkin kita melihat anak-anak seperti tidak pernah lelah, tidak pernah merasa bosan, dan tidak pernah mau berhenti beraktifitas kecuali ketika mereka tidur. Itulah, memang anak-anak seolah belum mengerti apa itu lelah karena dunia mereka adalah bermain dan bahagia.

  1. Rasa ingin tahu yang kuat

Rasa ingin tahu yang kuat ini sudah pasti dipunyai anak. Biasanya tiap anak punya rasa penasaran dan ingin mengetahui sgala ini dan itu. Sifat ini sering mendorong anak menjadi lebih bawel, lebih cerewet dan sebentar-sebantar bertanya. Kenapa begitu, kenapa begini, kok gitu, dst.

  1. Spontan

Anak ceplas-ceplos dan terkesan polos dalam berbicara. Tidak ada yang mereka tutupi. Mereka belum berfikir merekayasa (manipulasi) sesuatu dari aslinya. Ini adalah sifat asli anak-anak. Ceplas-ceplos dan kepolosan itu merefleksikan apapun yang ada dalam hati dan pikiran mereka.

  1. Semakin menunjukkan minat terhadap teman

Anak-anak akan semakin menunjukkan minat bersosialisasi. Mereka akan merasa senang menemukan teman bermain baru, apalagi yang usianya sebaya. Pergaulan mereka yang sebelumnya didominasi bersama ayah bundanya lambat laun akan makin luas. Dan pergaulan yang mereka suka adalah bergaul, bermain dengan teman sedunianya, sesame anak.

Semoga dengan Anda mengetahui enam karakter ini, anda dapat mendidik anak anda dengan sebaik mungkin. Semoga bermanfaat.

Penampakan Mikroskopis ASI Sungguh Mengejutkan

Semua orang mengakui keunggulan ASI dan segudang manfaatnya bagi bayi. ASI kaya akan nutrisi dan antibodi yang bermanfaat bagi tumbuh kembang bayi. Baru-baru ini, seorang ibu di Amerika meletakkan setetes ASI di bawah mikroskop dan menemukan hal yang luar biasa.

Jansen Howard, ibu dari seorang putri berusia 11 bulan ini mengunggah sebuah video berdurasi 30 detik di akun facebook-nya yang menampilkan molekul hidup dari air susu ibu di bawah lensa mikroskop. Jansen menyebutnya Cairan Emas yang Hidup.

Ayah Jansen adalah seorang mikroskopist, dan memiliki seperangkat alat mikroskop di rumah untuk memeriksa sel darah ibu Jansen yang menderita kanker. Jansen mengaku ia melakukan hal ini karena rasa ingin tahu.

“Saya mendengar bahwa ASI memiliki antibodi yang bisa berubah komposisinya sesuai kebutuhan bayi. Saya juga membaca sebuah artikel yang menyatakan bahwa ada jutaan sel darah putih dalam setiap tetes ASI,” ujar Jansen menjelaskan alasannya melihat ASI melalui mikroskop.

“Itu sangat indah. Video yang saya unggah tidak bisa menangkap semua warna yang ada dalam ASI, ungu, hijau, perpaduan indah dari gumpalan-gumpalan yang berwarna-warni,” tambahnya.

Karena banyaknya permintaan yang masuk di akun facebook-nya untuk menaruh susu formula di mikroskop, Jansen pun melakukannya. Kemudian mengunggah video perbandingan antara susu formula dan ASI di bawah lensa mikroskop.

Hasilnya, susu formula tampak tidak memiliki sel hidup di dalamnya. Dengan penemuan ini, Jansen merasa lebih bersemangat untuk memberikan ASI eksklusif pada putrinya.

Video tentang keunikan ASI ini telah ditonton oleh jutaan orang dan dibagi ribuan kali. Jansen yang juga merupakan seorang seniman gambar mengatakan senang bisa membagi keindahan dan keajaiban ASI pada semua orang.

Lihat videonya di Ajaibnya ASI

Meski demikian, Jansen mengaku bahwa postingannya tersebut bukan sebagai bentuk kampanye anti susu formula. Karena dia sendiri juga menggunakan susu formula sebagai makanan tambahan bagi putrinya.

Apa yang dilakukan Jansen memperkuat hasil riset para ilmuwan yang menyatakan bahwa ASI adalah nutrisi terbaik bagi bayi. Susu formula memang mengandung nutrisi juga, tetapi tidak memiliki antibodi yang terkandung dalam ASI dan sangat dibutuhkan oleh bayi untuk masa tumbuh kembangnya.

sumber: id.theasianparentdotcom

Mengenal Kecerdasan Emosional Anak

Fenomena tawuran, perkelahian antar kelompok, antar suku dan antar agama yang sering terjadi di negeri ini menunjukkan kurang adanya perhatian terhadap kecerdasan emosional selama ini. Konflik yang terjadi menggambarkan bahwa masing-masing kelompok sama-sama kurang cerdas secara emosional. Mengenal-kecerdasan-emosional-anakBahkan hal terjadi pada semua lapisan masyarakat, tidak memandang seberapa tinggi tingkat pendidikan, status sosial, maupun status ekonomi. Perhatian pendidikan terhadap persoalan pengembangan kecerdasan emosional memang dirasa masih kurang, sehingga pendidikan perlu berbenah guna meningkatkanya. Demikian halnya dengan mainstream masyarakat perlu diubah bahwa cerdas tak cukup hanya cerdas secara intelektual tetapi juga cerdas secara emosinal. Pendidikan kecerdasan emosional hendaknya dilakukan pada semua jalur pendidikan baik pendidikan formal, non formal maupun informal, masing-masing dengan strategi dan implementasi yang sesuai. Untuk dapat melatih dan mengembangkan kecerdasan emosional secara optimal kita perlu memahami tentang apa yang dimaksud dengan kecerdasan emosional.

Kecerdasan emosional menggambarkan kecerdasan hati dan Intelectual Intelegence menggambarkan kecerdasan akal/otak. Kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional adalah sumber-sumber daya sinergis tanpa yang satu yang lain menjadi tidak sempurna dan tidak efektif. Cerdas intelektual tanpa cerdas emosional, kita dapat meraih nilai A dalam ujian tetapi akan membuat tidak berhasil dalam kehidupan. Wilayah kecerdasan emosional adalah hubungan pribadi dan antar pribadi, kecerdasan emosional bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial, dan kemampuan adaptasi sosial pribadi.

Ada 5 (lima) kecerdasan emisonal, yakni:

1. Mengenali Emosi Diri:
Kesadaran mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Mengenali emosi diri merupakan dasar kecerdasan emosional. Orang-orang yang memiliki keyakinan lebih tentang perasaanya adalah pilot yang andal bagi mereka, karena mereka memiliki kepekaan lebih terhadap perasaan yang sesungguhnya atas pengambilan keputusan-keputusan masalah pribadi.

2. Mengelola Emosi:
Menangani perasaan agar dapat terungkap secara tepat. Kecakapan ini tergantung pada kemampuan mengenali emosi diri. Termasuk dalam kecakapan ini adalah bagaimana menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, ketersinggungan dan akibat-akibat yang timbul karena gagalnya keterampilan emosional dasar ini. Orang-orang yang tidak cakap dalam keterampilan ini akan terus-menerus melawan perasaan murung, sementara mereka yang pintar dalam keterampilan ini dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan keruntuhan dalam kehidupan.

3. Memanfaatkan emosi secara produktif
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting kaitannya dengan perhatian, memotivasi diri sendiri, menguasai diri sendiri dan untuk berkreasi. Mengendalikan emosi diri meliputi menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Disamping itu mampu menyesuaikan diri dalam flow (hanyut dalam pekerjaan) memungkinkan terwujudnya kinerja yang tinggi dalam segala bidang. Orang yang memiliki ketrampilan ini jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka kerjakan.

4. Mengenali Emosi Orang lain (Empati)
Empati merupakan kemampuan yang juga bergantung kepada kesadaran diri emosional. Empati merupakan keterampilan bergaul yang mendasar. Orang yang empatik jauh lebih mampu menangkap sinyal sosial yang tersebunyi, yang
mengisyaratkan apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain.

5. Membina Hubungan
Sebagian besar seni membina hubungan merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Keterampilan sosial ini menunjang popularitas kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi. Orang yang hebat dalam keterampilan ini akan
sukses dalam bidang apapun yang mengandalkan pergaulan dengan orang lain. Mereka adalah bintang-bintang pergaulan.

Gambaran penerapan kecerdasan emosional antara lain dalam hubungan laki-laki dan perempuan. Antara anak laki-laki dan anak perempuan memiliki keterampilan yang berbeda dalam kecerdasan emosional sebagai akibat dari pendidikan emosi yang berbeda pada masa kanak-kanak. Perempuan lebih mahir membaca sinyal emosi, baik verbal maupun non verbal, mahir mengungkapkan dan mengkomunikasikan perasaan-perasannya.

Sementara laki-laki lebih terampil untuk meredam emosi yang berlaitan dengan perasaan rentan, salah, takut dan sakit. Pada tingkatan looding (emosi) yang meluap laki-laki akan lebih banyak diam, yang berarti mengurangi reaksi saraf otonomnya.

Sebaliknya perempuan akan lebih banyak bicara dan akan semakin meningkat saat reaksi saraf otonomnya apabila melihat pasanganya diam atau tidak merespon kemarahannya.

Bagaimana cara melatih kecerdasan emosional anak semenjak dini? Simak artikel selanjutnya ya 😉

Citra Diri Negatif pada Anak

Pembentukan citra diri (body image) pada anak, terutama anak pra-remaja, sangat dipengaruhi oleh orang tua. Untuk itu, orang tua perlu hati-hati sangat mengomentari tubuh anak agar kelak ia tak memiliki body image yang negatif.

Orang yang memiliki body image negatif lebih berisiko mengalami gangguan makan, mood yang buruk serta rasa percaya diri yang rendah. Oleh karena itu, orang tua harus berperan dalam menjaga anak memiliki citra diri yang positif dengan tidak melakukan kesalahan-kesalahan ini.

1. Mencela tubuh anak

Mungkin orang tua berniat untuk membuat anak lebih mawas soal berat badannya yang meningkat. Tapi jika dilakukan dengan tidak baik, yang ada anak malah akan membenci tubuhnya.

Maka dari itu, hindari kata-kata seperti “kok perutnya gendut,” “ih perutnya buncit,” atau “kamu makannya jangan banyak-banyak kan udah gembrot,” yang dapat membuat anak memiliki citra diri yang negatif.

2. Membatasi anak secara berlebihan

Membatasi aktivitas anak dilakukan orang tua untuk mencegah anak kecewa, namun malah membuat anak memiliki citra diri negatif. Misalnya dengan melarang anak ikut klub basket karena badannya pendek atau tubuhnya terlalu gemuk. Hal ini malah membuat anak menyalahkan keadaan dan bisa membuatnya rendah diri.

3. Memaksa anak diet

Ketika berat badan anak sudah melebihi standar normal, orang tua patut khawatir. Namun jangan sampai memaksa anak untuk diet terlalu ketat karena berisiko menyebabkan gangguan makan. Lebih baik orang tua mengganti menu makan anak sehari-hari dengan menu yang lebih sehat, dan memberikan konsep mana makanan yang boleh dikonsumsi setiap hari dan mana yang hanya boleh dikonsumsi per minggu. Sumber:health.detikdotcom

Trauma Kehilangan Anak, Bikin Ortu Manjakan si Kecil

Hampir kehilangan buah hati bisa saja membuat orangtua trauma. Karena itulah, ada orang tua yang berjanji melakukan apapun ketika memang sang anak selamat, misalnya setelah melalui sakit parah.

Ini salah satunya dilakukan pembaca detikHealth bernama Yayuk. Wanita 40 tahun ini mengatakan trauma karena hampir kehilangan putranya yang berusia 6,5 tahun akibat mengalami shock saat terserang DBD dua tahun lalu. Nah, tahun lalu, sang anak terserang typus sampai-sampai membuat tubuhnya lemas, pucat, dan seperti akan meninggal. “Saya sedih sekali pas ingat waktu itu. Makanya waktu anaknya sembuh saya berusaha sebisa mungkin memenuhi keinginannya. Tapi kadang kalau anaknya bandel ya saya omelin juga sih he he he,” tutur Yayuk.

Lain Yayuk, lain pula yang dialami seorang ayah bernama Daru. Ia mengatakan, putranya yang kini duduk di bangku kelas 1 SMP pernah sakit dan nyawanya hampir tidak selamat. Kala itu, Daru berjanji akan menuruti apa yang dimaui sang anak. Alhasil, saat ini sang anak kerap merajuk ketika keinginannya tak dituruti. Kadang kala, Daru juga kewalahan menghadapi sikap sang anak.

Apa yang dialami Yayuk dan Daru bisa merupakan bentuk trauma yang dialami orang tua karena nyaris kehilangan sang anak. Diungkapkan psikolog anak dan keluarga dari Tiga Generasi, Anna Surti Ariani MPsi., Psikolog, trauma semacam ini memang bisa membuat orang tua memperlakukan anak secara tidak rasional. “Jadi, supaya orang tua bisa kembali rasional, dia harus bisa menangani dulu traumanya. Untuk sampai ke tahap itu, butuh beberapa proses, hingga orang tua akhirnya punya pemahaman bahwa saat ini toh anaknya sudah sehat dan dia tidak lagi terancam kehilangan,” terang wanita yang akrab disapa Nina ini saat berbincang dengan detikHealth.

Intinya, lanjut Nina, orang tua perlu menangani trauma yang dialami dan menyadari bahwa si anak sekarang tidak berada pada posisi hampir meninggal. Nah, ketika orang tua sudah bisa menghilangkan traumanya, dia jadi cenderung lebih rasional dalam memperlakukan anaknya. Dengan begitu, dia lebih bisa menelaah perilaku mana yang baik dan kurang baik untuk sang anak. “Saat orang tua sudah menyadari, kita bisa ajari teknik parenting yang lebih sesuai. Tapi kalau kesadaran itu belum ada, agak sulit. Dan kesadarannya itu kesadaran emosional ya, jadi dia bisa mengatakan bahwa ‘saya sudah menerima sekali dulu saya sempat hampir kehilangan makanya saya sampai begitu ke anak saya. Tapi kenyataannya saat ini rasa sayang dan ekspresi sayang saya bisa mengganggu si kecil’,” kata Nina.

Jika orang tua sudah tidak trauma, penting juga memberi pengertian ke anak. Sebab, dikatakan Nina, anak bisa merasa perubahan di mana sebelumnya ia dimanja tapi kini orang tuanya malah lebih rasional. Terlebih ketika anak sudah di atas usia 3 tahun, orang tua juga sudah bisa bersikap tegas. Seperti diungkapkan Nina, di 3 tahun pertama usia anak, yang penting adalah kedekatannya dengan orang tua. Nah, di atas usia 3 tahun, ketegasan perlu dijalankan termasuk saat anak melakukan sesuatu maka akan ada konsekuensi yang dia ambil.

Hal seperti itu nantinya dibutuhkan anak untuk mengakomodir perkembangan kognitif dan emosional anak. Sehingga, jika tadinya anak belum boleh mendapat hukuman, saat usianya di atas 4 tahun dia sudah bisa mendapat hukuman. “Justru orang tua tidak perlu merasa terlalu bersalah selama hukumannya relevan, bukan hanya karena orang tuanya emosi dan memang tepat,” pungkas wanita yang juga praktik di Lembaga Psikologi Terapan UI ini. Sumber: health.detik.com

Anak Usia SD: Baiknya Sudah Punya Kamar Sendiri

mendidik-anak-mandiri
Mendidik anak mandiri

Usia sekolah bisa jadi fase paling tepat untuk melatih kemandirian anak. Pakar mengatakan salah satu bentuknya adalah dengan memberikan anak kamar sendiri. dr Tri Gunadi, A.Md.OT., S.Psi dari Klinik Tumbuh Kembang Anak YAMET, mengatakan memiliki kamar sendiri merupakan langkah pertama mengajarkan kemandirian jelang anak memasuki masa pubertas. Idealnya, anak sudah memiliki kamar sendiri saat sudah masuk Sekolah Dasar.

Bentuk lain dari melatih kemandirian anak adalah dengan meminta menyiapkan peralatan sekolah sendiri. Dengan adanya kamar, orang tua bisa menyimpan benda-benda milik anak mulai dari peralatan sekolah hingga mainan dengan mudah.

Ketika anak sudah agak besar, kamar juga bisa digunakan anak untuk berganti baju saat akan sekolah atau pulang ke rumah. Hal ini juga merupakan pelatihan kemandirian sekaligus pendidikan kesehatan reproduksi dengan tidak membiasakan anak membuka baju sembarangan.

Manfaat anak memiliki kamar sendiri juga dirasakan oleh orang tua. Menurut dr Gunadi, orang tua bisa lebih tenang melakukan aktivitas seksual ketika anak sudah tidur di kamarnya sendiri.

Psikolog anak dan remaja dari RaQQi – Human Development & Learning Centre, Ratih Zulhaqqi mengatakan anak yang sudah usia sekolah namun masih tidur bersama orang tua bisa mengalami masalah kemandirian. Untuk itu, latihan anak tidur sendiri sangat penting.

“Mereka jadi nggak ada batasan. Padahal anak juga harus punya privasi. Akibatnya kemandirian sosial sama emosional anak tidak berkembang karena mereka didampingi terus,” katanya. (Sumber:health.detikdotcom)